Sistem Aplikasi Go Desa Pid di Tahun 2020

BLANGTUNONG.DESA.ID – Di era digital sekarang ini, pihak swasta maupun pemerintah, berlomba-lomba memperbaharui sistem dan metode kerjanya dari manual ke sistem digital. Kementerian Desa PDTT Republik Indonesia sudah melakukan itu. Dan saat ini, Direktorat Jenderal (Ditjen) PPMD melalui Direktorat PMD Kemendesa telah merancang tiga aplikasi yang akan berintegrasi ke aplikasi Go Desa.

Aplikasi ini merupakan sebuah model digital platform. Dalam sistem aplikasi Go Desa milik Kemendesa, terdapat 9 komponen aplikasi. Dari 9 komponen tersebut, ada 3 komponen aplikasi (TPD, P2KTD dan Inovasi Desa) menjadi tanggung jawab Direktorat PMD. Sedangkan 6 komponen lainnya menjadi tanggung jawab di luar Direktorat PMD.

Ketiga aplikasi tersebut yaitu, Bidang Layanan 1 Tenaga Pendamping Desa (TPD), Bidang Layanan 3 Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD), dan bidang Layanan 5 Inovasi Desa.

Untuk membahas kesiapan ketiga aplikasi tersebut, digelar workshop di Jakarta pada 16-20 Mei 2019. Workshop menghadirkan praktisi/akademisi di bidang Informasi Teknologi (IT) sebagai narasumber. Jajaran Bank Dunia juga turut diundang. Sedangkan pesertanya terdiri dari pejabat dan staf Kemendesa, Konsultan Nasional PID, Konsultan Nasional P3MD, serta perwakilan Tenaga Ahli dari beberapa provinsi.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Ditjen PPMD Kemendesa PDTT, M Fachri mengatakan, tiga komponen aplikasi tersebut akan menjadi bagian di sistem aplikasi Go Desa. Pada tahun 2020 akan diterapkan. Tidak menutup kemungkinan, akan diuji coba dulu pada pelaksanaan Bursa Inovasi Desa (BID) Tahun 2019.

“Rancangannya tahun ini. Dan tahun depan diterapkan,” jelas Fachri saat menutup kegiatan workshop “Pembangunan Sistem Aplikasi Go Desa Tahun 2019”.

Ada tiga output rancangan sistem aplikasi yang dihasilkan dari workshop pada 16-20 Mei tersebut. Pertama, menghasilkan dokumen rancangan aplikasi Layanan TPD, Layanan P2KTD, dan Layanan Inovasi Desa, sebagai bagian dari aplikasi Go Desa. Kedua, adanya dokumen rancangan database aplikasi TPD, P2KTD, dan Inovasi Desa. Dan yang ketiga, narasi laporan kegiatan perancangan sistem aplikasi.

“Selama workshop, telah dilakukan diskusi kelompok dan pembahasan yang intens. Bahan-bahan apa saja yang disiapkan untuk masuk di sistem aplikasi,” kata Fachri.

Saat diskusi kelompok, peserta workshop dibagi menjadi tiga kelas. Kelas Bidang Layanan 1 membahas dokumen TPD, Kelas Bidang Layanan 3 membahas dokumen P2KTD, dan Kelas Bidang Layanan 5 bertanggung jawab untuk penyediaan dokumen Inovasi Desa. “Ada juga dokumen Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) yang dihasilkan di workshop,” sebutnya.

Di Bidang Layanan 1 TPD, lanjut Direktur PMD, sistem aplikasinya mengelola sekitar 37.459 Tenaga Pendamping Desa (TPD) di 33 rovinsi. Mulai dari pengaturan, data induk, kehadiran, kelola tugas, pantau tugas, pelaporan, komunikasi, integrasi, secara efektif tertransformasikan/terpantau di sistem aplikasi.

Untuk Bidang Layanan 3 terkait P2KTD, diproyeksikan menjadi pintu gerbang berbasis permintaan yang dapat menghubungkan desa dengan lembaga P2KTD. Tujuannya memenuhi berbagai kebutuhan konsultasi desa. Lembaga P2KTD tidak hanya mempromosikan kegiatan, program, keterampilan dan institusi kepada desa-desa, namun juga kepada masyarakat melalui pasar digital.

Kemudian, Bidang Layanan 5 terkait Inovasi Desa, menjadi media bagi desa dalam memamerkan berbagai inovasi video dan dokumentasi praktik terbaik, yang memberikan peluang berjejaring di antara para pemangku kepentingan desa.

“Semoga aplikasi Go Desa yang dikembangkan Kemendesa ini, yang di dalamnya ada 3 aplikasi yang jadi tanggung jawab Direktorat PMD, menghasilkan output besar. Salah satunya yang paling kita harapkan mendukung kualitas dan efektifitas penyaluran dan pengelolaan Dana Desa,”tandas Fachri berharap. **

Sumber : pid.ppmd.kemendesa.go.id

Facebook Comments

Mungkin Anda juga menyukai